Digital clock

Sabtu, 03 November 2012

jenis musang


           Musang Luak / Paradoxurus                

Musang luwak, Paradoxurus hermaphroditus.
Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Carnivora
Famili: Viverridae
Upafamili: Paradoxurinae
Genus: Paradoxurus
F. Cuvier, 1821 Spesies: P. hermaphroditus
Nama binomial Paradoxurus hermaphroditus
(Pallas, 1777).
Musang luwak adalah hewan menyusu (mamalia) yang termasuk suku musang dan garangan (Viverridae). Nama ilmiahnya adalah Paradoxurus hermaphroditus dan di Malaysia dikenal sebagai musang pulut. Hewan ini juga dipanggil dengan berbagai sebutan lain seperti musang (nama umum, Betawi), careuh (Sunda), luak atau luwak (Jawa), serta common palm civet, common musang, house musang atau toddy cat dalam bahasa Inggris.

Daftar isi
  • 1 Pemerian
  • 2 Kebiasaan
  • 3 Jenis yang berkerabat dan penyebaran
  • 4 Jenis yang serupa
  • 5 Rujukan
  • 6 Pranala luar
Pemerian
Musang bertubuh sedang, dengan panjang total sekitar 90 cm (termasuk ekor, sekitar 40 cm atau kurang). Abu-abu kecoklatan dengan ekor hitam-coklat mulus.
Sisi atas tubuh abu-abu kecoklatan, dengan variasi dari warna tengguli (coklat merah tua) sampai kehijauan. Jalur di punggung lebih gelap, biasanya berupa tiga atau lima garis gelap yang tidak begitu jelas dan terputus-putus, atau membentuk deretan bintik-bintik besar. Sisi samping dan bagian perut lebih pucat. Terdapat beberapa bintik samar di sebelah menyebelah tubuhnya.
Wajah, kaki dan ekor coklat gelap sampai hitam. Dahi dan sisi samping wajah hingga di bawah telinga berwarna keputih-putihan, seperti beruban. Satu garis hitam samar-samar lewat di tengah dahi, dari arah hidung ke atas kepala.
Hewan betina memiliki tiga pasang puting susu.
Kebiasaan
Musang luwak yang masih muda
Musang luwak adalah salah satu jenis mamalia liar yang kerap ditemui di sekitar pemukiman dan bahkan perkotaan. Hewan ini amat pandai memanjat dan bersifat arboreal, lebih kerap berkeliaran di atas pepohonan, meskipun tidak segan pula untuk turun ke tanah. Musang juga bersifat nokturnal, aktif di malam hari untuk mencari makanan dan lain-lain aktivitas hidupnya.
Dalam gelap malam tidak jarang musang luwak terlihat berjalan di atas atap rumah, meniti kabel listrik untuk berpindah dari satu bangunan ke lain bangunan, atau bahkan juga turun ke tanah di dekat dapur rumah. Musang luwak juga menyukai hutan-hutan sekunder.
Musang ini kerap dituduh sebagai pencuri ayam, walaupun tampaknya lebih sering memakan aneka buah-buahan di kebun dan pekarangan. Termasuk di antaranya pepaya, pisang, dan buah pohon kayu afrika (Maesopsis eminii). Mangsa yang lain adalah aneka serangga, moluska, cacing tanah, kadal serta bermacam-macam hewan kecil lain yang bisa ditangkapnya, termasuk mamalia kecil seperti tikus.
Di tempat-tempat yang biasa dilaluinya, di atas batu atau tanah yang keras, seringkali didapati tumpukan kotoran musang dengan aneka biji-bijian yang tidak tercerna di dalamnya. Agaknya pencernaan musang ini begitu singkat dan sederhana, sehingga biji-biji itu keluar lagi dengan utuh. Karena itu pulalah, konon musang luak memilih buah yang betul-betul masak untuk menjadi santapannya. Maka terkenal istilah kopi luwak dari Jawa, yang menurut ceritera dari mulut ke mulut diperoleh dari biji kopi hasil pilihan musang luwak, dan telah mengalami ‘proses’ melalui pencernaannya!
Musang luwak, menurut lukisan dalam buku William Marsden (1811), The History of Sumatra.Akan tetapi sesungguhnya ada implikasi ekologis yang penting dari kebiasaan musang tersebut. Jenis-jenis musang lalu dikenal sebagai pemencar biji yang baik dan sangat penting peranannya dalam ekosistem hutan.
Pada siang hari musang luwak tidur di lubang-lubang kayu, atau jika di perkotaan, di ruang-ruang gelap di bawah atap. Hewan ini melahirkan 2-4 anak, yang diasuh induk betina hingga mampu mencari makanan sendiri.
Sebagaimana aneka kerabatnya dari Viverridae, musang luwak mengeluarkan semacam bau dari kelenjar di dekat anusnya. Samar-samar bau ini menyerupai harum daun pandan, namun dapat pula menjadi pekat dan memualkan. Kemungkinan bau ini digunakan untuk menandai batas-batas teritorinya, dan pada pihak lain untuk mengetahui kehadiran hewan sejenisnya di wilayah jelajahnya.
Jenis yang berkerabat dan penyebaran
Ada empat spesies musang dari marga Paradoxurus, yalah:
  1. Paradoxurus hermaphroditus, musang luwak, yang menyebar luas mulai dari India dan bagian utara Pakistan di barat, Sri Lanka, Bangladesh, Burma, Asia Tenggara, Tiongkok selatan, Semenanjung Malaya hingga ke Filipina. Di Indonesia didapati di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi bagian selatan, serta Taliabu dan Seram di Maluku.
  2. Paradoxurus zeylonensis, menyebar terbatas di Sri Lanka.
  3. Paradoxurus jerdoni, menyebar terbatas di negara bagian Kerala, India selatan.
  4. Paradoxurus lignicolor, menyebar terbatas di Kepulauan Mentawai.
Jenis yang serupa
  • Musang akar (Arctogalidia trivirgata), dengan ekor yang umumnya lebih panjang dari kepala dan tubuhnya, tiga garis punggung yang tanpa atau hampir tidak terputus, dan tidak memiliki bintik-bintik di sisi tubuhnya. Musang akar hidup di hutan.
  • Musang galing (Paguma larvata), biasanya lebih kemerahan (tengguli), tanpa bintik-bintik di sisi tubuh, wajah putih kekuningan dengan ‘topeng’ gelap kehitaman di sekitar mata.
  • Musang rase (Viverricula indica), ekor berbelang-belang sempurna, hitam putih, 6-9 buah.

            Binturong / binturung           


yang dalam bahasa latin disebut Arctictis binturong adalah sejenis musang bertubuh besar. Musang yang mirip Beruang dan mulai diminati sebagai hewan peliharaan ini memiliki beberapa keunikan. Ekor Binturung dapat berfungsi sebagai kaki kelima guna berpegangan pada dahan. Dan pada Binturong betina memiliki organ khas berupa (maaf) penis palsu (pseudo-penis)
Dalam beberapa daerah binatang ini disebut sebagai Binturong, Binturung, Menturung atau Menturun. Dalam bahasa Inggris, hewan ini disebut Binturong, Malay Civet Cat, Asian Bearcat, Palawan Bearcat, atau secara ringkas Bearcat. Disebut  Bearcat mungkin dikarenakan karnivora berbulu hitam lebat ini bertampang mirip beruang yang berekor panjang, serta berkumis lebat dan panjang seperti kucing. Sedangkan di China binatang ini disebut Xiong-Li.
Binturung (Arctictis binturong) tersebar mulai dari Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, Kamboja, Cina, India, Indonesia (Jawa bagian barat, Kalimantan, Sumatera), Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Filipina (provinsi Palawan), Thailand, dan Vietnam. Di Indonesia binatang ini termasuk hewan yang dilindungi.
Ciri-ciri dan Tingkah Laku Binturong. Binturung memiliki tubuh yang berukuran besar dan ekor yang besar dan panjang. Panjang tubuh Binturong antara 60 – 95 cm, sedangkan panjang ekornya antara 50 – 90 cm. Beratnya binatang sejenis Musang ini sekitar 6 – 14 kg, bahkan bisa mencapai 20 kg.
Binturong berambut panjang dan kasar yang berwarna hitam seluruhnya atau kecoklatan, dengan taburan uban keputih-putihan atau kemerahan. Pada masing-masing ujung telinga terdapat seberkas rambut yang memanjang. Ekor Binturung berambut lebat dan panjang, terutama di bagian mendekati pangkal, sehingga terkesan gemuk. Ekor ini dapat digunakan untuk berpegangan pada dahan sebagai ‘kaki kelima’. Yang unik, Binturung betina memiliki pseudo-penis alias penis palsu, suatu organ khas yang langka ditemui pada makhluk lainnya.
Binturung sebagaimana umumnya musang, merupakan binatang nokturnal yang aktif di malam hari. Walaupun lebih sering berada di atas pepohonan (arboreal) Binturong juga turun ke tanah (terestrial). Kadang-kadang ada juga yang bangun dan aktif di siang hari.
Sebagai bangsa karnivora, Binturung (Arctictis binturong) memakan telur, hewan-hewan kecil semacam burung dan hewan pengerat. Namun Binturung juga memakan buah-buahan dan dedaunan.
Binturung sangat pandai memanjat dan melompat dari dahan ke dahan, binatang sejenis musang ini biasanya bergerak tanpa tergesa-gesa di atas pohon. Ekornya digunakan untuk keseimbangan, atau terkadang berpegangan manakala sedang meraih makanannya di ujung rerantingan. Cakarnya berkuku tajam dan melengkung, memungkinkannya untuk mencengkeram pepagan dengan kuat. Kaki belakangnya dapat diputar ke belakang untuk memegang batang pohon, sehingga binturung dapat turun dengan cepat dengan kepala lebih dulu.
Seperti umumnya Musang, Binturung mengeluarkan semacam bau dari kelenjar di bawah pangkal ekornya. Bau ini digunakan untuk menandai wilayah kekuasaannya. Hewan betina melahirkan 2-6 anak, setelah mengandung selama kurang lebih 91 hari.
Konservasi Binturung. Populasi Binturong (Arctictis binturong) cenderung mengalami penurunan. Oleh IUCN Redlist binatang ini dimasukkan dalam status konservasi Vulnerable (VU; Rentan). Selain itu juga terdaftar dalam CITES Apendiks III. Binatang ini oleh pemerintah Indonesia termasuk salah satu satwa yang dilindungi.
Berkurangnya populasi Binturong disebabkan oleh perburuan dan hancurnya hutan sebagai akibat penggundulan hutan dan kebakaran hutan. Binturung diburu untuk diambil kulitnya yang berbulu tebal, dan untuk dimanfaatkan bagian-bagian tubuhnya sebagai bahan obat tradisional.
Dewasa ini mulai banyak orang yang memelihara Binturong sebagai hewan peliharaan layaknya kucing dan anjing. Binatang ini memang lucu sebagai hewan peliharaan tetapi saya yakin akan semakin ‘lucu’ jika Musang berkaki lima ini punah di alam liarnya.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mammalia; Ordo: Carnivora; Famili: Viverridae; Upafamili: Paradoxurinae; Genus: Arctictis (Temminck, 1824) Spesies: Arctictis binturong. Nama binomial: Arctictis binturong (Raffles, 1821).
 
 

                Garangan/Herpestes Javanicus

 Sumber : wwf.org.hk

Klasifikasi Ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Carnivora
Famili: Herpestidae
Genus: Herpestes
Spesies: H. javanicus

Nama Binomial
Herpestes javanicus

Status Konservasi
Risiko Rendah (Least Concern)

Garangan/Tenggarangan (Herpestes javanicus) atau dalam bahasa inggris sering disebut Small Asian Mongoose/Indian Mongoose/Small Indian Mongoose/Javan Mongoose adalah hewan yg termasuk dalam spesies mongoose, banyak di temui di asia tenggara dan asia utara

Garangan memakan kepiting sawah, kodok, ular, laba-laba, kalajengking juga burung dan telur burung (biasanya burung puyuh) dan kalo sawahnya deket dgn pemukiman warga, garangan sering juga makan ayam piaraan warga

Garangan ini termasuk hewan unik, jika anda melihat garangan melintas tidak jauh dari anda cukup teriakin aja atau di siulin yg keras, maka garangan tersebut akan berdiri dan melihat ke arah anda

 

i
frames
Musang Pulut

Pengelasan saintifik
Alam: Haiwan
Filum: Kordata
Subfilum: Vertebrat
Kelas: Mamalia
Order: Kanivor
Famili: Viverridae
Genus: Paradoxurus
Spesies: P. hermaphroditus



Musang Pulut (bahasa Inggeris: "Common Palm Civet" merupakan salah satu daripada haiwan terlindung yang terdapat dari India dan Sri Lanka sehingga keseluruhan selatan China dan tanah besar Asia Tenggara, termasuk Malaysia, Sumatera, Jawa, Borneo, Sulawesi dan Filipina. Pemburuannya memerlukan lesen pemburuan. Nama sainsnya Paradoxurus hermaphroditus.
Musang Pulut boleh di dapati di hutan sekunder (baru), ladang buah, berhampiran kampung, malah kadang kala terdapat di bumbung rumah kawasan pendalaman. Pada kebiasaannya, ia bersarang dalam lubang pokok di mana mereka menjaga dua atau tiga ekor anak. Spesies ini aktif pada waktu malam sepenuhnya.
Ciri-ciri
Musang Pulut adalah haiwan berdarah panas, melahirkan anak, menjaga anak, dan mempunyai bulu di badan.
Jantung Musang Pulut terdiri daripada empat kamar seperti manusia. Kamar atas dikenali sebagai atrium, sementara kamar bawah dikenali sebagai ventrikel.
Musang Pulut boleh dikenali dengan tiga jalur gelap di bahagian belakang dengan latar belakang kelabu atau (creamy), dan topeng hitam pada bahagian mata, pipi dan hidung dengan tompok putih di bahagian bawah mata. Musang Pulut mempunyai bulu kasar kelabu sehingga keperangan dengan bulu tebal (guard hairs) hitam dihujung merata-rata. Ia turut mempunyai bau yang kuat yang mencucuk hidung.

Musang Pulut mempunyai berat sekitar 4 hingga 11 paun, dengan panjang antara kepala dan badan sekitar 43.2-71 sentimeter (17 to 28 inci), dangan ekor sepanjang 40.6-66 sentimeter (16 hingga 26 inci). Ia mempunyai telinga yang kecil dan agak meruncing, sebagaimana hidungnya. Ia mempunyai tubuh yang panjang kurus dangan kaki pendek. Bahagian telinga, kaki dan hujung ekor juga berbulu hitam.
Musang Pulut menyebarkan biji benih dari pada buah yang dimakannya dengan memakan isi dan membuang najis yang berisi biji benih jauh daripada pokok asal. Walaupun tidak banyak yang diketahui mengenai musang Pulut, tabiat keluar waktu malamnya terhasil kerana bagi mengelakkan pemangsa.
Both sexes have well-developed anal scent glands looking somewhat like testes, which gives the musang its species name.
 
Makanan:
Musang Pulut adalah maserba malam (nocturnal), dan memburu secara bersendirian. Ia adalah pemanjat yang cekap dan menghabiskan kebanyakan masa di atas pokok. Makanan utama musang Pulut adalah buah-buahan terutamanya mempelam, tetapi turut makan haiwan bertulang belakang kecil, cacing dan serangga.
Musang Pulut juga sangat suka memakan nira yang digunakan dalam nama Inggerisnya. Musang Pulut juga gemarkan buah kopi. Ia makan isi luar dan biji kopi melalui saluran penghadaman mereka. Kopi yang mahal yang dikenali sebagai luwak dikatakan dihasilkan daripada biji kopi ini. Kopi luwak dikatakan mempunyai rasa berkanji (gamy flavor) dan dijual dengan harga sehingga US$100 sepaun.
 
Pembiakan:
Musang Pulut turut mengawal kawasan yang mungkin bertindan semasa bekalan makan berkurangan. Apabila tinggal disesuatu kawasan, musang akan menggunakan pokok yang sama untuk tidur pada waktu siang.
Musang Pulut membiak sepanjang tahun walaupun ia pernah direkodkan bahawa anaknya lebih kerap dilihat antara Oktober hingga Disember. Anaknya dilahirkan berkawan antara 2 hingga 5 ekor. Sebagai mamalia, Musang Pulut berdarah panas, melahirkan anak, menjaga anak, dan mempunyai bulu di badan. Musang Pulut akan menjaga anaknya sehingga mampu berdikari.
Musang Pulut menjadi matang antara 11 hingga 12 bulan. Dalam kurungan musang Pulut mampu hidup sehingga 22 tahun.

Musang Hitam Pudar

Musang Hitam Pudar
frames



Pengelasan saintifik
Alam: Haiwan
Filum: Kordata
Subfilum: Vertebrat
Kelas: Mamalia
Order: Karnivor
Famili: Viverridae
Genus: Diplogale
Spesies: D. hosei


Musang Hitam Pudar (bahasa Inggeris: Hose's Palm Civet; bahasa Dusun: Tani; bahasa Kadazan: Toni; bahasa Penan: Perayen) adalah sejenis mamalia carnivora yang endemik di Borneo utara. Nama saintifiknya Diplogale hosei. Ia diberikan nama sempena Charles Hose, seorang ahli zoologi. Musang Hitam Pudar tergolong dalam famili Viverridae.
Tidak banyak yang diketahui mengenai mamalia pemangsa ini. Apa yang diketahui mengenai spesies ini datangnya daripada maklumat yang diperolehi daripada 17 buah spesimen yang disimpan di muzium-muzium di seluruh dunia. Hanya seekor Musang Hitam Pudar pernah ditangkap hidup hidup dalam sejarah: seekor Musang Hitam Pudar betina yang ditangkap padas tahun 1997 di Brunei dan disimpan dalam kurungan selama 2 bulan sebelum dilepaskan kembali.tidak ada seekor Musang Hitam Pudar yang hidup di dalam kurungan pada masa ini di mana mana tempat di dunia.

Isi kandungan

Rupa Bentuk

Bahagian atasnya (dari hujung hidung sampai hujung ekor, termasuk bahagian luar kakinya) berwarna gelap (hitam pudar hingga hitam) dan bahagian bawahnya berwarna putih hingga putih kekuningan.[1][2] Ia mempunyai selaput di antara jari-jari kakinya (macam itik) dan ada bulu di bahagian bawah tapak kakinya.[2]
Ukuran kepala sampai badan adalah 472 – 540mm, ekornya 298-346mm, kaki belakang 74-81mm dan telinganya 35 – 39mm. Ia dianggarkan seberat 1.4 – 1.5kg bila dewasa, dan mempunyai 40 batang gigi.

Corak Aktiviti

Musang Hitam Pudar dipercayai aktif hanya pada waktu malam sahaja. Ia dipercayai bergerak atas tanah dan jarang naik pokok seperti musang musang lain.Ia dipercayai bersarang di lubang-lubang antara batu dan akar akar pokok.

Pemakanan

Tidak banyak diketahui tentang apa yang dimakan oleh musang ini. Kemungkinan besarnya ia mencari ikan ikan kecil, udang, katak dan serangga di sebalik batu-batu yang berlumut di anak-anak sungai.

Taburan dan Habitat: 

Setakat ini, Musang Hitam Pudar pernah dijumpai hanya di beberapa kawasan di Sarawak, Sabah dan Brunei; ia belum pernah dijumpai di Kalimantan.

Kawasan di mana ia paling kerap ditemui setakat ini adalah sebuah kawasan pembalakan di Ulu Baram, Sarawak, iaitu Sela’an-Linau Forest Management Unit (FMU), di mana antara tahun 2004 hingga 2005, sebanyak 14 keping gambar carnivora ini didapati dari kamera kamera otomatik khas yang disimpan di hutan.Sebelum ini, kawasan di mana paling banyak specimen binatang ini didapati adalah Tanah Tinggi Kelabit (Kelabit Highlands), di mana antara tahun 1945 hingga 1949, Tom Harrisson mendapati 4 ekor specimen.Oleh kerana Sela’an Linau FMU dan Kelabit Highlands terletak berdekatan antara satu sama lain, kawasan ini mungkin merupakan habitat yang paling sesuai untuk Musang Hitam Pudar.[3][9]
Setakat ini, hampir semua rekod Musang Hitam Pudar adalah dari Hutan Montane (gunung).[1][2][3][5] Ini menyebabkan ianya dipercayai sebagai spesies pergunungan. Namun demikian, ia pernah dijumpai di ketinggian hanya 450m di Brunei,[6] 600m di Batu Song, Sarawak,[2] dan salah satu daripada 14 keping gambar dari Sela’an – Linau FMU diambil dari paras ketinggian 730m.[3][9]

Status Pemuliharaan:

Pada masa ini, faktor faktor yang akan menentukan pemuliharaan Musang Hitam Pudar pada jangka masa panjang (seperti jumlah individu, tahap tangunggan terhadap hutan tua, kawasan keliaran (kewilayahan), corak pergerakan dan sebagainya) langsung tidak diketahui. Jadi, langkah langkah yang perlu diambil untuk memastikan pemuliharaannya buat jangka masa panjang tidak dapat ditentukan.[3][9] Tidak ada mana-mana kawasan terlindung sepenunya yang menampung populasi besar Musang Hitam Pudar. Di negeri Sarawak, tiada mana mana kawasan terlindung sepenuhnya yang diketahui menampung spesies ini.
Musang Hitam Pudar sekarang tergolong sebagai “Vulnerable” di Senarai Merah Spesies Terancam IUCN (Red List) IUCN,berdasarkan kawasan keliarannya yang sangat terhad dan kemusnahan habitat yang berleluasa di kawasan kawasan sedemikian,[8] terutamanya disebabkan pembalakan dan perladangan secara besar-besaran (seperti kelapa sawit dan Pokok Akasia). Pemburuan mungkin juga satu ancaman terhadap spesies ini.Ia mungkin akan disenaraikan kepada golongan ancaman yang lebih tinggi di Senarai Merah IUCN, sekiranya lebih banyak maklumat diperolehi tentang ancaman dan ekologinya. Oleh yang demikian, kajian harus dilakukan atas spesies ini secepat mungkin.


Musang Tenggalung


Musang Tenggalung

Pengelasan saintifik
Alam: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mamalia
Order: Carnivora
Keluarga: Viverridae
Genus: Viverra
Spesies: V. tangalunga
Nama binomial
Viverra tangalunga
Gray, 1832
Taburan Musang Tenggalung
(hijau gelap - masih wujud,
hijau muda - mungkin masih wujud)
Musang Tenggalung[2] (bahasa Inggeris: Malayan Civet atau Oriental Civet) adalah salah satu daripada haiwan yang terdapat di Malaysia. Nama sainsnya Viverra tangalunga.
Malaysia merupakan salah satu daripada 12 negara yang telah diiktiraf sebagai kepelbagaian raya "mega diversity" dari segi bilangan dan kepelbagaian flora dan fauna dengan 15,000 spesies pokok berbunga yang diketahui, 286 spesies mamalia, lebih 1,500 vertebrat darat, lebih 150,000 spesies invertebrat, lebih 1000 spesies rama-rama dan 12,000 spesies kupu-kupu, dan lebih 4,000 spesies ikan laut.
Isi kandungan
Taburan
Musang Tenggalung boleh didapati di Malaysia.
Ciri-ciri
Musang Tenggalung adalah haiwan yang tergolong dalam golongan benda hidup, alam haiwan, bertulang belakang (vertebrat), kelas Mamalia. Dalam aturan : , tergolong dalam keluarga : . Musang Tanggalong adalah haiwan berdarah panas, melahirkan anak, menjaga anak, dan mempunyai bulu di badan.
Jantung Musang Tanggalong terdiri daripada 4 kamar seperti manusia. Kamar atas dikenali sebagai atrium, sementara kamar bawah dikenali sebagai ventrikel.
Pembiakan
Sebagai mamalia, Musang Tenggalung berdarah panas, melahirkan anak, menjaga anak, dan mempunyai bulu di badan. Musang Tenggalung akan menjaga anaknya sehingga mampu berdikari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar